Mari Sharing dan bersamasama belajaFaktor-Faktor Timbulnya Serangan

Posted on: Oktober 19, 2010

Silahkan memberi masukan dan saling mengisi maslah ini

1. Scripting

Kesalahan dalam scripting pembuatan web adalah hal terbanyak yang dimanfaatkan oleh para attacker, sehingga rata-rata web yang berhasil diserang melalui lubang ini. Kelemahan-kelemahan scripting yang ditemukan pada proses vulnerabilities scanning misalnya, XSS, SQL Injection, PHP Injection, HTML Injection, dan lain sebagainya.

Begitu pula pada CMS semisal Mambo, Joomla, WordPress, dan lainnya. CMS tersebut memiliki banyak komponen pendukung di internet yang bisa kita download, install dan konfigurasi. Sehingga sangat memungkinkan sekali terdapat bug pada scriptingnya. Langkah terbaik tentunya melakukan pembedahan (oprek) terhadap script serta melakukan pengujian sebelum komponen tersebut kita gunakan pada web yang sebenarnya. Pengujian bisa dilakukan melalui localhost pada komputer dengan menginstall PHP, apache, dan mySQL, atau menginstall software semisal WAMP ataupun XAMPP yang merupakan paket all in one.

Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya kita harus mulai belajar dan memahami scripting-scripting secara bertahap, baik HTML, PHP, javascript, dan sebagainya.

CMS tersebut sebenarnya cukup aman, namun komponen tambahan yang tidak dibuat dengan baik, tentu saja bisa menimbulkan masalah besar bagi sistem secara keseluruhan.

2. Lubang pada Situs Tetangga

Ini merupakan salah satu faktor yang jarang mendapat perhatian. Sebagian webmaster kadang tidak begitu peduli ketika web lain yang satu hosting dihacked. Mereka berpikiran, “Ah, toh bukan web saya yang kena.” Padahal justru di sinilah letak kesalahannya.

Logikanya, misal web kita ditempatkan pada perusahaan hosting A. itu artinya web kita bertetangga dengan web milik orang lain yang berada dalam 1 hosting. Jika web tetangga tersebut memiliki celah fatal, sehingga attacker bisa menanam program yang dijadikan backdoor. Dengan backdoor inilah attacker bisa masuk ke dalam web kita bahkan web lainnya. Bukan itu saja, tidak mustahil attacker melakukkan defacing massal, termasuk web kita tentunya.

3. Tempat Hosting yang Bermasalah

Pada beberapa kasus justru tempat hosting yang bermasalah menjadi sebab dihackednya banyak situs yang berada di bawah pengelolaannya. Pernah terjadi situs milik sebuah perusahaan dideface. Kemudia setelah diperbaiki, dideface lagi. Kemudian lapor ke admin perusahaan hosting, justru balik menyalahkan pemilik situs dengan alasan yang nggak masuk akal.

Kenyataannya, justru web hosting itu yang nggak pernah di administrasi dengan baik, jarang diupdate, dan jarang dipatch, sehingga mudah terkena serangan. Dengan model pengelolaan yang seperti ini jangan berharap web kita akan aman. Karena itu, pastikan tempat hosting yang digunakan benar-benar memperhatikan tingkat keamanan bagi pelanggannya.

B. Macam-Macam Tindakan Hacking

Dari kelemahan-kelemahan tersebut di atas, maka terjadilah beberapa tindakan hacking terhadap web yang kita miliki. Apa saja tindakan-tindakan hacking tersebut? Berikut beberapa di antaranya :

1. Memodifikasi Validasi Input

Biasanya para attacker mencoba menguji validasi-validasi input yang diterapkan pada form dan parameter buangan pada address bar dalam melakukan proses attacking.

Penanganan yang harus diperhatikan adalah memperhatikan validasi yang terdapat pada form, baik itu validasi angka maupun validasi string, batasi jumlah karakter yang bida dimasukkan, batasi jumlah karakter yang bisa dimasukkan, batasi kegiatan-kegiatan injeksi dengan : strip_tags(), htmlspecialchars(), gunakan variable global sebagaimana mestinya dan gunakan wordfilter untuk memfilter berbagai inputan yang berbahaya.

2. Cross-Site Scripting (XSS)

Salah satu vulnerabilities dalam website adalah Cross-Site Scripting (XSS). Ada 2 jenis aksi yang biasa dilakukan dalam XSS, yaitu

–        Direct Action, merupakan injeksi kode yang dilakukan oleh attacker, tetapi hasil injeksinya hanya ditampilkan pada komputer user bersangkutan.

–       Stored Action, merupakan injeksi kode yang dilakukan oleh attacker dan hasil injeksinya bisa dinikmati oleh banyak pengunjung.

Bagaimana mengatasi hal ini? Usahakan semua kode-kode spesial yang mempunyai arti dalam scripting HTML seperti < (kurang dari), > (lebih dari), & (ampersand), “ (kutip dua) dan ‘ (kutip satu) tidak dieksekusi sebagai karakter spesial. Semua karakter spesial tersebut harus diubah. Semua karakter spesial tersebut harus diubah dan dikonversi ke entitas HTML.

3. SQL Injection

Kegiatan attacking yang banyak dilakukan akhir-akhir ini adalah SQL Injection, karena SQL Injection merupakan teknik hacking yang sudah tersebar luas dan relatif mudah dipahami. Attacker melakukan proses attacking dengan menyisipkan perintah-perintah SQL pada form ataupun pada address bar.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya kita membatasi inputan dengan : htmlspecialchars(), mysql_escape_string() dan hubungi administrator hosting kita untuk merubah : magic_quotes_gpc=on.

4. PHP Injection

web yang kita miliki bisa dideface, didirect dan dikuasai orang lain? Ya, ada teknik PHP Injection. Attacker mempergunakan sploit yang sudah ditanam di remote server miliknya dan hanya dengan mengeksekusi sript sploit tersebut melalui address bar dan melakukan connect back, maka terkuasailah web kita.

Untuk mengatasi hal ini, pastikan penggunaan file direct dengan include () harus dikurangi dan sering-seringlah melakukan update terhadap aplikasi yang kita gunakan. Jika kita memakai CMS, sering-seringlah melakuakn update CMSnya, begitu pula dengan komponen yang digunakan.

C. Dasar-Dasar Pengamanan

Setelah sedikit mengetahui hal-hal di atas, maka sekarang kita membahas tentang strategi dasar pengamanan web. Pada dasarnya, strategi pengamanan web yang dapat kita lakukan di antaranya sebagai berikut :

1. Pemilihan Sistem Operasi (OS), Setting Server, dan Desain Aplikasi

Salah satu hal penting yang harus dicermati adalah pemilihan sistem operasi (OS). Seberapa besar pengamanan yang dibutuhkan sangat berhubungan dengan sistem operasi. Sebagai ilustrasi, meskipun sistem operasi semisal Windows 9x bisa dijadikan sebagai server web dengan keterbatasannya melalui Personal Web Service (PWS), sistem ini tidak cukup apabila pengamanan merupakan faktor penting. Salah satu kelemahannya Windows 9x tidak dapat menyediakan NTFS yang sangat penting untuk kontrol akses.

Setting konfigurasi pada server yang tidak memadai dan hanya mengandalkan default merupakan faktor utama penyebab server yang dibangun tidak terjamin keamanannya. Penentuan kebijakan dalam menerapkan sistem pengamanan ini merupakan kunci utama yang harus diperhatikan untuk diterapkan pertama kali. Ironisnya justru hal ini merupakan hal yang paling sering diabaikan.

2. Instalasi Patch

Idealnya, software yang kita pakai mestinya sudah sempurna sejak awal. Namun kenyataannya tidak pernah ada software yang benar-benar 100% bugs free. Ada saja bagian program yang rawan keamanan. Pada saat kerawanan tersebut ditemukan biasanya perusahaan pembuat software akan mengeluarkan aplikasi baru untuk memperbaiki kesalahan software terdahulu. Aplikasi inilah yang dikenal dengan nama patch. Meskipun penggunaan istilah ini sekarang juga digunakan bagi para cracker untuk membajak sebuah software resmi.

Penerapan patch ini harus dilakukan pada sistem operasi, server web, add on, maupun file-file komponen lain yang terintegrasi dengan web kita. Kemalasan, ketidaktahuan, serta kesibukan admin server membuat mereka tidak konsisten menerapkan patch ini. Sangat ironis jika dibandingkan dengan kemudahan dalam instalasi patch tersebut.

3. Kontrol Akses

Penentuan siapa yang dapat mengakses server harus dilakukan dengan menggunakan kontrol akses, baik dengan autentikasi maupun otorisasi. Autentikasi adalah proses validasi identitas yang dilakukan dengan membandingkan data user yang dikirim dengan data yang terdapat dalam database. Setelah melakukan autentikasi, langkah selanjutnya yaitu melakukan otorisasi yang merupakan proses untuk menentukan apakah pengguna memiliki ijin untuk melakukan tindakan yang diminta.

Ada dua tipe dasar autentikasi, yaitu berbasiskan akses direktori dan autentikasi berbasiskan form. Khusus untuk Windows ada tipe autentikasi lain yaitu autentikasi passport.  Sedangkan otorisasi terbagi dua bentuk, yaitu ACL (Access Control Listi) dan hostname.

4. Audit dan Log File

Audit diperlukan untuk menunjang cara-cara pengamanan yang telah dijelaskan di atas. Proses monitoring aktivitas tertentu seperti usaha login (berhasil atau gagal), dan kemudian menuliskannya ke dalam log ini merupakan proses audit. Sebagai contoh, kita dapat menganalisa dengan mengaudit kegagalan usaha login  dalam log, memungkinkan kita menentukan saat seseorang berusaha menyerang server.

..

Untuk mengaktifkan sistem audit dan log sangat bergantung pada sistem operasi, aplikasi server yang dijalankan, database yang digunakan, dll. Pada sistem Posix (*nix: unix dan variannya (linux, FreeBSD)), log defaultnya berada di /var/log yang pengaktifannya bergantung pada aplikasi atau proses apa yang ingin diaudit. Log server web yang kita jalankan dikonfigurasikan di file konfigurasi server apache (defaultnya httpd.conf)

5. Menerapkan Kriptografi

Selanjutnya, juga perlu diketahui bagaimana proses pengiriman lewat protokol http, baik permintaan layanan maupun respon berupa teks biasa (plaintext). Kemungkinan attacker untuk melakukan tindakan kriminal dengan mencuri data sensitif seperti password, e-mail atau nomor kartu kredit sangat besar kemungkinannya.

Untuk menjaga informasi semacam ini tetap aman, diperlukan enkripsi yang membuat plaintext menjadi ciphertext (teks yang tidak terbaca akibat proses enkripsi). Proses kebalikan dari enkripsi yaitu deskripsi. Ilmu yang mempelajari tentang keamanan informasi inilah yang disebut kriptografi.

Pada level sistem operasi, penerapan yang dilakukan untuk mengamankan server web adalah dengan menggunakan SSL. Secara default komunikasi SSL terjadi pada port 443 dengan prefiks https:// untuk url yang menggunakan SSL. Untuk mengaktifkan SSL pada server diperlukan sertifikat server. Pembuatan server ini dapat diajukan kepada pemegang sertifikat pihak ketiga yang sudah terkenal seperti Verisign atau bahkan bisa juga dengan membuat sendiri. Secara default konfigurasi SSL pada apache terletak pada direktori httpd di mana server apache diinstall.

D. Penerapan Dasar-Dasar Pengamanan

Dari dasar-dasar pengamanan di atas, kita dapat menerapkan ke dalam 3 level keamanan sebagai berikut :

1. Level Sistem Operasi (OS) dan Hardware

Cakupan level akses ini menjangkau hadware server, network, dan sistem operasi yang digunakan. Jika web kita pengelolaannya dilakukan oleh perusahaan hosting, maka tanggung jawab ini ada pada admin sistem perusahaan hosting tersebut. Oleh karena itu kita harus tahu dengan yakin apakah perusahaan hosting tempat web kita berada cukup terpercaya dan dapat diandalkan. Terutama jika web kita dinilai memang cukup berharga.

Namun sebaliknya, jika pengelolaan web kita pegang sendiri, atau dengan kata lain kitalah yang menjadi adminnya, ada baiknya jika melakukan hal-hal sebagai berikut :

–         Back up full dan differential secara periodik dan otomatis

–         Mengaktifkan firewall

–         Mengaktifkan sistem loging yang baik dan efektif untuk keperluan audit dan monitoring

–         Untuk OS *nix, mengaktifkan Intrusion Detection atau akan lebih baik jika menggunakan IPS

–         Untuk OS *nix, mengaktifkan detektor malicious code seperti Tripwire atau dengan membuat sendiri

–        Untuk OS *nix, mengaktifkan detektor scan, SATAN, seperti courtney, icmpinfo, klaxon, snort, atau dengan membuat script sendiri

–        Menerapkan otorisasi ACL dengan melakukan restriksi pada user, direktori, dan file dengan akses paling terbatas. Semua akses –rwx group, sebaiknya di nonaktifkan dan akses untuk other sebaiknya tidak bisa melakukan write

–         Untuk OS *nix, sebaiknya menggunakan perintah chown dan chmod

–         Untuk OS Windows, menggunakan properti file atau direktori dan menyetting user serta hak aksesnya

–         Selalu melakukan patching atau upgrade dengan versi yang lebih baru atau stabil

–        Tidak memperbolehkan user menggunakan program remote seperti telnet. Jika terpaksa, lebih baik diganti dengan menggunakan service yang lebih aman seperti SSH dan mengubah port defaultnya (port 22) menjadi port lain.

–         Menonaktifkan semua service yang tidak diperlukan

–         Jika perlu menggunakan SSL

2. Level Akses Host

Level berikutnya untuk memperkuat keamanan web yaitu mengaktifkan restriksi akses level host. Dengan kata lain, implementasi otorisasi host dilakukan di sini.

Pertama, kita harus menentukan dahulu IP/host atau ID network mana saja yang boleh mengakses web kita. Atau bahkan bisa juga untuk memblokir IP/host yang tidak diharapkan.

Untuk mengaktifkannya, kita harus menambahkan perintah seperti berikut :

<Directori “[Path]/administrator”>

Order deny,allow

Deny from all

Allow from .situskita.com

Allow from 123.123.123.123

</Directory>

Yang dapat disisipkan dikonfigurasi daemon http (defaultnya httpd.conf) maupun di file .htaccess. Atau jika menggunakan fasilitas CPanel, dapat melakukan konfigurasi pada menu yang tersedia.

3. Level Akses Direktori dan File

Level Akses Direktori

Lakukan proteksi pada direktori yang dianggap penting dan bukan untuk konsumsi umum, seperti direktori administrator, login, dll. Keamanan direktori tersebut yang umumnya hanya 1 level keamanan, bisa ditingkatkan menjadi 2 level keamanan dengan menambah 1 level akses keamanan lagi, yaitu autentikasi akses direktori. Sehingga ketika akan melakukan login, sebelum masuk ke menu login administrator, akan muncul terlebih dahulu jendela autentikasi yang berisi user dan password. Di mana sebaiknya user dan passwordnya berbeda dengan user dan password untuk login pada direktori web.

Cara mengatifkannya cukup dengan melakukan konfigurasi autentikasi user dan password pada Cpanel web kita, jika kendali web ada pada kita.

Level Akses File

–         Selalu melakukan back up secara berkala (full dan differential)

–         Menghapus file instalasi dan direktorinya

–         Aktif di forum yang membahas tentang keamanan website

–         Mengganti user admin menjadi nama yang tidak menunjukkan account admin

–         Jika menggunakan CMS sebaiknya tidak menginstall komponen yang masih versi beta, kecuali kita yakin tidak ada bugs yang berkaitan dengan keamanan atau kita sendiri yang telah melakukan modifikasi.

–         Tidak mengaktifkan komponen yang tidak diperlukan. Bahkan lebih baik lagi jika di uninstall atau dihapus

–        Jika menggunakan fasilitas registrasi member pada forum atau semacamnya, sebaiknya tidak memberikan akses registrasi user, kecuali jika memberlakukan sistem registrasi yang ketat. Misalnya dengan mengaktifkan e-mail activation pada user yang melakukan registrasi.

–         Tambahkan perintah : Disallow: /administrator/ atau Disallow: /[nama_direktori]/ pada file robots.txt

[nama_direktori] adalah direktori yang tidak ingin ditampilkan pada search engine

–        Setelah selesai melakukan development, jangan lupa melakuakn restriksi attribut untuk semua file dan direktori. Semua akses –rwx group, sebaiknya di nonaktifkan dan akses untuk other sebaiknya tidak bisa melakukan write, kecuali untuk direktori cache ataupun direktori upload dan semacamnya yang memang diperlukan oleh server web

–        Jika situs kita memberikan fasilitas kepada pengunjung untuk mengupload file, pastikan bahwa fasilitas tersebut tidak dapat digunakan untuk mengupload file script seperti php, cgi, pl, sh, dll.

–          Mengaktifkan sef dan alias manager

–         Mengubah nama direktori administrator menjadi nama direktori yang tidak mencerminkan direktori admin. Nama direktori administrator dapat saja tetap dipertahankan untuk membuat suatu fake atau decoy seolah-olah direktori tersebut yaitu direktori admin. Dan untuk lebih meyakinkan, dapat kita proteksi juga direktori fake ini dengan .htaccess

–         Jika menggunakan CMS dan berniat membuat komponen sendiri, pastikan selalu menambahkan perintah :

defined( ‘_VALID_MOS ) or die( ‘Direct Access to this location is not allowed.’ ), di awal baris setiap file PHPnya

–        Jika memungkinkan, pindahkan direktori administrator sedemikian rupa sehingga direktori tersebut sejajar dengan direktori root file inti web kita secara fisik. Gunakan alias untuk membuat direktori pada konfigurasi server  apache kita agar direktori ini dapat diakses.

Apa yang telah saya tulis di atas, bukanlah suatu hal yang mutlak harus dilakukan keseluruhannya. Namun lebih kepada kebutuhan kita sendiri. Mungkin memang sedikit terkesan phobia dan berlebihan. Tapi bagi web yang memiliki tingkat bisnis dan reputasi tinggi, mempertahankan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KONTAK PERSON YM

KATEGORI

ALBUM

foto004

KALENDER

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

  • 89,729 hits
%d blogger menyukai ini: